Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Ekspor Perdana dari Landono, Konsel Dorong Hilirisasi Singkong dan Perkuat Gerbang Agribisnis Sultra

 

 

KONAWE SELATAN – Lintangsultra.com — Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) menegaskan komitmennya untuk memperkuat hilirisasi sektor pertanian sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan industri pengolahan komoditas lokal berorientasi ekspor.

Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kehadiran Wakil Bupati Konawe Selatan, H. Wahyu Ade Pratama Imran, S.H., dalam acara Pelepasan Ekspor Perdana Komoditas Unggulan Sulawesi Tenggara ke Pasar Internasional, yang digelar di kawasan PT Agri Cassava Makmur, Desa Arongo, Kecamatan Landono, Kabupaten Konawe Selatan, Kamis (10/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi salah satu momentum penting bagi Sulawesi Tenggara, khususnya Konawe Selatan, karena untuk pertama kalinya komoditas hasil pengolahan dari wilayah tersebut dilepas langsung menuju pasar internasional melalui skema direct export.

Acara ini turut dihadiri Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka, Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), H. Abdul Kadir Karding, S.Pi., M.Si., serta Anggota Komisi IV DPR RI Daerah Pemilihan Sulawesi Tenggara, Jaelani, S.P., M.Si.

Wakil Bupati Wahyu hadir bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan, di antaranya Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Kepala Dinas Pertanian, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU), serta sejumlah camat dari wilayah yang menjadi sentra produksi pertanian, yakni Camat Landono, Camat Mowila, dan Camat Sabulakoa.

1.027 Ton Komoditas Dilepas ke Pasar Internasional
Dalam ekspor perdana tersebut, Sulawesi Tenggara berhasil memfasilitasi pengiriman komoditas olahan dengan total volume mencapai 1.027 ton, dengan nilai ekonomi keseluruhan sekitar Rp10,9 miliar.

Komoditas yang diekspor terdiri atas dua produk utama.

Pertama, tepung tapioka (Tapioca Starch) sebanyak 900 ton dengan nilai mencapai sekitar Rp7,3 miliar, yang dikirim ke Republik Rakyat Tiongkok (China).

Kedua, minyak kelapa (Crude/RBD Coconut Oil) sebanyak 127 ton dengan nilai sekitar Rp3,6 miliar, dengan tujuan ekspor Malaysia.

Pengiriman tersebut dinilai menjadi bukti bahwa komoditas pertanian dan perkebunan Sulawesi Tenggara memiliki peluang untuk bersaing di pasar global apabila didukung dengan pengolahan, standardisasi mutu, sertifikasi, serta sistem distribusi ekspor yang memadai.

Landono Jadi Titik Penting Hilirisasi Ubi Kayu
Keberadaan fasilitas pengolahan PT Agri Cassava Makmur di Desa Arongo, Kecamatan Landono, dinilai menjadi tonggak penting bagi pengembangan industri hilirisasi di Konawe Selatan.

Melalui fasilitas tersebut, komoditas ubi kayu atau singkong yang selama ini dikenal sebagai hasil pertanian masyarakat dapat diolah menjadi produk tepung tapioka yang memiliki nilai tambah dan dipasarkan ke pasar internasional.

Konsep tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan pola pengelolaan komoditas dari sekadar menjual bahan mentah menuju pengembangan industri pengolahan di daerah.

Dengan adanya industri pengolahan di dekat sentra produksi, rantai ekonomi diharapkan tidak hanya berhenti pada kegiatan budidaya, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui proses produksi, penyerapan tenaga kerja, transportasi, perdagangan, hingga aktivitas pendukung lainnya.

Gubernur: Komoditas Lokal Harus Memiliki Nilai Tambah

Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka, dalam sambutannya menyebut ekspor perdana tersebut sebagai momentum penting bagi daerah untuk menunjukkan bahwa produk lokal Sulawesi Tenggara mampu menembus pasar internasional.

Ia menegaskan pentingnya mengubah pola pengelolaan komoditas agar hasil pertanian dan perkebunan tidak hanya keluar dari daerah dalam bentuk bahan mentah.

“Hari ini adalah momentum yang sangat penting dan membanggakan bagi kita semua. Ekspor perdana tepung tapioka sebanyak 900 ton ke Tiongkok dan minyak kelapa 127 ton ke Malaysia membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memiliki potensi agrobisnis yang amat besar,” ujar Andi Sumangerukka.

Menurutnya, hilirisasi harus terus didorong agar komoditas daerah memiliki nilai tambah sekaligus memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.

“Kita ingin mengubah paradigma lama; komoditas kita tidak lagi dikirim keluar dalam bentuk mentah tanpa nilai tambah, melainkan harus melalui proses hilirisasi di daerah sendiri agar mampu menyerap tenaga kerja dan menggerakkan roda ekonomi lokal,” lanjutnya.

DPR RI Dorong Penguatan Infrastruktur dan Karantina
Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI, Jaelani, S.P., M.Si., menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga teknis, dan dunia usaha dalam membangun ekosistem ekspor yang berkelanjutan.

Menurutnya, sektor pertanian memiliki peran strategis dalam struktur perekonomian Sulawesi Tenggara sehingga penguatan infrastruktur produksi dan pendukung ekspor menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

“Sektor pertanian menyumbang porsi terbesar bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sultra. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku usaha harus terus diperkuat,” kata Jaelani.

Ia juga menyatakan kesiapan Komisi IV DPR RI untuk mengawal kebijakan anggaran maupun regulasi yang berkaitan dengan pertanian, karantina, serta infrastruktur pendukung kegiatan ekspor.

“Kami di Komisi IV DPR RI siap memperjuangkan peningkatan alokasi anggaran infrastruktur dan penguatan laboratorium karantina guna memastikan seluruh komoditas kita memenuhi standar saniter dan fitosaniter internasional,” tegasnya.

Barantin Pastikan Dukungan Sertifikasi Ekspor

Kepala Badan Karantina Indonesia, H. Abdul Kadir Karding, S.Pi., M.Si., menyampaikan bahwa lembaganya siap memberikan dukungan terhadap pelaku usaha yang ingin memperluas pasar komoditas Sulawesi Tenggara ke berbagai negara.

Menurutnya, pemenuhan persyaratan negara tujuan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan ekspor.

“Badan Karantina Indonesia hadir untuk memberikan jaminan kualitas, keanekaragaman hayati, dan keamanan pangan sesuai standar negara pemohon (importing country requirements),” ungkap Kadir Karding.

Ia mengatakan pendampingan teknis akan terus dilakukan agar pelaku usaha dapat memenuhi persyaratan ekspor sekaligus memperlancar proses sertifikasi.

“Kami akan memangkas proses birokrasi yang berbelit serta memberikan pendampingan teknis agar komoditas Sultra semakin mudah menembus pasar internasional secara berkesinambungan,” tambahnya.

Wabup Wahyu: Konsel Siap Jaga Iklim Investasi

Wakil Bupati Konawe Selatan, H. Wahyu Ade Pratama Imran, S.H., menyampaikan apresiasi atas terlaksananya ekspor perdana tersebut, terlebih kegiatan itu berlangsung di Kecamatan Landono.

Menurut Wahyu, keberadaan fasilitas pengolahan PT Agri Cassava Makmur menjadi peluang besar bagi masyarakat Konawe Selatan, khususnya petani ubi kayu dan komoditas pertanian lainnya.

Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan, kata dia, siap mendukung kebutuhan investasi melalui kemudahan pelayanan perizinan, penguatan infrastruktur, serta peningkatan konektivitas jalan dan jembatan yang menjadi jalur distribusi komoditas.

“Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan menyambut hangat kemitraan strategis ini. Ditempatkannya fasilitas pengolahan PT Agri Cassava Makmur di Landono memberikan dampak domino (multiplier effect) yang sangat nyata bagi para petani ubi kayu dan kelapa di wilayah Landono, Mowila, Sabulakoa, hingga seluruh pelosok Konawe Selatan,” tutur Wahyu.

Ia menegaskan bahwa Pemkab Konsel berkomitmen menjaga iklim investasi tetap kondusif sekaligus meningkatkan aksesibilitas infrastruktur yang menunjang aktivitas agribisnis.

Diharapkan Buka Pasar dan Serap Hasil Produksi Petani
Lebih lanjut, Wahyu berharap ekspor perdana tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi awal dari pengembangan rantai industri agribisnis yang lebih besar di Konawe Selatan.

Sinergi antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Badan Karantina Indonesia, DPR RI, Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan, serta para pelaku industri seperti PT Agri Cassava Makmur dan PT Sofi Agro Industries, diharapkan mampu mendorong peningkatan kapasitas produksi sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.

Menurutnya, berkembangnya industri pengolahan juga diharapkan dapat memberikan kepastian pasar bagi petani, mendorong perluasan lahan tanam, meningkatkan produktivitas, serta membuka lapangan kerja baru di daerah.

Dengan potensi pertanian yang dimiliki, Konawe Selatan dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai salah satu basis agribisnis dan hilirisasi komoditas pertanian di Sulawesi Tenggara.

“Harapan kita, momentum ini menjadi awal dari penguatan ekosistem agribisnis Konawe Selatan. Tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga mampu mengolah, meningkatkan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan membawa produk daerah menembus pasar internasional,” pungkas Wahyu.

Red:Lintangsultra.com

Popular Articles