Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Hak Warga Miskin Dirampas Pangkalan Elpiji 3 Kg di Watumokala Diduga Layani Pembelian Borongan, Warga Minta Izin Dicabut Hingga Proses Hukum

Dokumentasi foto: pangkalan nengah hindrawan

KONAWE SELATAN – lintangsultra.com Kelangkaan tabung gas Elpiji bersubsidi 3 kilogram di Desa Watumokala, Kecamatan Andoolo Barat, Kabupaten Konawe Selatan, semakin meresahkan masyarakat. Warga menduga salah satu pangkalan gas bersubsidi di wilayah tersebut tidak menyalurkan gas sesuai peruntukannya sehingga masyarakat kesulitan memperoleh hak mereka sebagai penerima subsidi pemerintah.

Keluhan tersebut disampaikan sejumlah warga kepada media LintangSultra.com. Mereka mengaku sering kehabisan gas meskipun stok tabung masih terlihat tersedia di lokasi pangkalan.

Salah seorang warga Desa Watumokala, Asnadi (65), mengaku kecewa dengan kondisi yang terjadi selama ini. Menurutnya, saat dirinya hendak membeli gas Elpiji 3 kilogram pada Sabtu, 6 Juni 2026, ia melihat sebuah mobil pikap sedang memuat puluhan tabung gas dari pangkalan tersebut.

“Ketika saya datang mau membeli gas, pemilik pangkalan mengatakan stok sudah habis. Padahal saya melihat masih banyak tabung gas dan ada mobil pikap yang sedang memuat gas dalam jumlah besar,” ungkap Asnadi.

Menurut keterangan warga, mobil tersebut sering terlihat mengambil tabung gas dalam jumlah banyak setiap kali pasokan gas baru tiba. Warga menduga pengambilan dilakukan secara borongan dan telah berlangsung cukup lama.

Akibat praktik tersebut, masyarakat yang datang membeli gas beberapa jam setelah pembongkaran sering tidak kebagian. Bahkan, warga mengaku harus datang lebih awal saat distribusi baru dilakukan agar bisa mendapatkan satu tabung gas.

“Sekarang kalau datang agak siang sudah habis, Harga pembelian pun pertabung 25 ribu tidak sesuai beda dengan yang tercatat di papan impormasi pangkalan tertera 23,000 (dua pulu tiga ribu).

Dulu saat awal pangkalan berdiri, pembelian masih tertib menggunakan KTP sesuai ketentuan. Tetapi beberapa bulan terakhir sudah tidak seperti itu lagi,” ujar seorang ibu rumah tangga yang enggan disebutkan namanya.

Ia menambahkan, hampir setiap kali pasokan gas datang, selalu ada kendaraan yang mengambil tabung dalam jumlah besar. Setidaknya terdapat dua unit mobil yang sering terlihat melakukan pembelian dalam jumlah banyak dan diduga telah menjadi pelanggan tetap.

Warga menilai kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab kelangkaan Elpiji bersubsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pangkalan tersebut tercatat atas nama Nengah Hindrawan dengan Nomor Registrasi 793819858214067 dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp23.000 per tabung sebagaimana mengacu pada Keputusan Gubernur Sulawesi Tenggara Nomor 74 Tahun 2022.

Saat tim LintangSultra.com mendatangi lokasi untuk melakukan konfirmasi, seorang pria yang berada di pangkalan mengatakan bahwa pemilik sedang berada di kebun. Ketika ditanya mengenai identitas pemilik yang disebut warga bernama Tarjo, pria tersebut membantah dirinya adalah orang yang dimaksud. Namun sejumlah warga sekitar menyebut ciri-ciri pria tersebut mirip dengan sosok yang dikenal sebagai Tarjo.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola pangkalan belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan penjualan gas bersubsidi dalam jumlah besar kepada pihak tertentu.

Sejumlah warga berharap Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan, instansi terkait, Pertamina, serta aparat penegak hukum segera turun tangan melakukan pemeriksaan dan evaluasi menyeluruh terhadap operasional pangkalan tersebut.

Masyarakat meminta apabila ditemukan pelanggaran terhadap aturan distribusi Elpiji bersubsidi, maka pemerintah tidak ragu memberikan sanksi tegas, termasuk pencabutan izin usaha serta proses hukum sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

“Warga miskin sangat bergantung pada gas Elpiji 3 kilogram. Jangan sampai hak masyarakat yang menjadi sasaran subsidi justru dinikmati oleh pihak-pihak yang membeli dalam jumlah besar. Kami berharap pemerintah segera bertindak sebelum keresahan masyarakat semakin meluas,” tegas salah seorang warga.

Reporter: Debi Guntur

Popular Articles